Program ini bermula dari penyertaan modal Pemerintah Kalurahan
Demangrejo pada Maret 2025 sebesar Rp250.000.000 sebagai bagian dari
implementasi program ketahanan pangan berbasis Dana Desa. Modal tersebut
dimanfaatkan untuk menyewa kandang ayam petelur senilai Rp10.000.000 dengan
masa sewa selama dua tahun, sekaligus pengadaan 1.600 ekor bibit ayam petelur
beserta kebutuhan sarana produksi awal.
Selama tahun pertama pelaksanaan, usaha masih berada pada tahap
investasi dan penyesuaian operasional. Hingga akhir Desember 2025, BUMDes
mencatat pemasukan dari penjualan telur sebesar Rp419.000.000, sementara
pengeluaran mencapai Rp636.000.000. Selisih sekitar Rp217.000.000 masih ditutup
menggunakan dana penyertaan modal awal karena sebagian besar biaya digunakan
untuk pembelian bibit ayam, pakan, peralatan, obat-obatan, serta kebutuhan
operasional kandang.
Memasuki tahun kedua, perkembangan usaha menunjukkan perubahan yang
menggembirakan. Berdasarkan laporan keuangan periode Januari–Juni 2026, BUMDes
berhasil membukukan pemasukan sebesar Rp419.000.000 dengan pengeluaran sebesar
Rp387.000.000, sehingga memperoleh keuntungan sebesar Rp32.000.000.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa usaha ayam petelur telah memasuki
fase produktif, di mana pendapatan dari penjualan telur mulai mampu menutupi
seluruh biaya operasional dan memberikan surplus usaha. Kondisi ini menjadi
indikator positif bahwa pengelolaan usaha ketahanan pangan semakin stabil
setelah melewati masa investasi pada tahun pertama.
Meskipun menunjukkan tren yang baik, pengelola BUMDes masih
menghadapi sejumlah tantangan dalam menjalankan usaha. Salah satu kendala utama
adalah kondisi kandang yang memerlukan perbaikan agar lebih mendukung
produktivitas ayam petelur. Selain itu, usaha juga dipengaruhi fluktuasi harga
pakan dan harga telur yang cukup tajam.
Sebagai gambaran, pada Juni 2026 harga pakan mencapai sekitar
Rp7.500 per kilogram (sesuai satuan pembelian yang digunakan BUMDes),
sedangkan Harga Pokok Produksi (HPP) telur berada di kisaran Rp22.000 per
kilogram. Pada saat yang sama, harga jual telur di pasaran justru turun hingga
sekitar Rp18.000 per kilogram. Kondisi tersebut menyebabkan margin keuntungan
usaha menjadi sangat tipis dan menuntut pengelolaan biaya yang lebih efisien.
Direktur BUMDes Binangun Lancar, Aluwi, A.Md., menyampaikan bahwa
pengalaman selama satu tahun mengelola usaha ayam petelur memberikan banyak
pembelajaran bagi pengurus BUMDes, baik dalam aspek teknis budidaya maupun
manajemen usaha.
“Satu tahun pertama menjadi proses belajar yang sangat berharga.
Kami memahami pola produksi, pengelolaan pakan, kesehatan ternak, hingga
strategi menghadapi naik turunnya harga telur. Dengan pengalaman tersebut, kami
optimis usaha ayam petelur akan terus berkembang dan memberikan manfaat yang
lebih besar bagi masyarakat,” ujar Aluwi.
Ke depan, BUMDes Binangun Lancar telah menyusun rencana kerja
pengembangan usaha, antara lain peningkatan kualitas kandang, efisiensi
penggunaan pakan, penguatan manajemen produksi, serta strategi pemasaran untuk
menghadapi fluktuasi harga telur. Langkah tersebut diharapkan dapat
meningkatkan produktivitas usaha sekaligus memperkuat kontribusi Program
Ketahanan Pangan terhadap pendapatan BUMDes dan kesejahteraan masyarakat
Kalurahan Demangrejo.
Program ini menjadi salah satu contoh implementasi pemanfaatan Dana
Desa untuk ketahanan pangan yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi
juga membangun usaha ekonomi desa yang berkelanjutan melalui pengelolaan BUMDes
secara profesional. (dono)
0 Comments:
Posting Komentar